Back

Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Widanarni, M.Si, memanfaatkan mikroba untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan budidaya. Dalam materi orasi ilmiahnya yang berjudul “Budidaya Berbasis Mikroba untuk Akuakultur Berkelanjutan”, Prof. Widanarni menjelaskan riset-risetnya tentang pemanfaatan prebiotik dan probiotik untuk budidaya udang vaname, ikan kerapu dan ikan budidaya lainnya. (more…)

Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Widanarni, M.Si, memanfaatkan mikroba untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan budidaya. Dalam materi orasi ilmiahnya yang berjudul “Budidaya Berbasis Mikroba untuk Akuakultur Berkelanjutan”, Prof. Widanarni menjelaskan riset-risetnya tentang pemanfaatan prebiotik dan probiotik untuk budidaya udang vaname, ikan kerapu dan ikan budidaya lainnya.


Dalam orasi ilmiahnya di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor (24/2/2018), Prof. Widanarni mengatakan, bahwa serangan penyakit telah menyebabkan kehilangan produksi akuakultur global sebesar 6 milyar dolar per tahun. “Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam akuakultur adalah dengan meningkatkan peran mikroba dalam sistem akuakultur,” ujarnya.

Ia dan tim risetnya mulai menggali potensi mikroba untuk meningkatkan performa reproduksi ikan dan udang serta memanfaatkan mikroba untuk memperbaiki kualitas lingkungan budidaya. Dikatakannya, potensi mikroba untuk mendukung akuakultur adalah sebagai biokontrol patogen dan stimulan sistem imunitas untuk melindungi ikan dan udang terhadap serangan penyakit. Selain itu, mikroba juga bisa menjadi promotor pertumbuhan guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui perbaikan aktivitas enzim dan kecernaan pakan, serta potensi pemanfaatan mikroba dalam mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan dalam pakan.

Prof. Widanarni melakukan seleksi mikroba yang bisa dimanfaatkan sebagai probiotik yang menguntungkan organisme budidaya sebagai inangnya. Selanjutnya, peran probiotik tersebut dapat ditingkatkan melalui aplikasi prebiotik, yaitu bahan pangan yang tidak dapat dicerna, tapi mampu memberikan efek menguntungkan bagi inangnya dengan cara menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas sejumlah bakteri tertentu di usus sehingga meningkatkan kesehatan inang. Dengan demikian, budidaya berbasis mikroba melalui modulasi peran probiotik dan prebiotik diharapkan dapat menjadi alternatif utama untuk akuakultur berkelanjutan di masa mendatang.
“Contohnya adalah pengendalian infeksi Vibrio pada udang windu, udang vaname dan ikan kerapu, pengendalian infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan lele dan ikan mas, serta infeksi Streptoccocus agalactiae pada ikan nila. Aplikasi probiotik dan prebiotik juga telah diuji efektif mengendalikan infeksi virus seperti IMNV dan WSSV pada udang vaname,” terang Prof Widanarni..

Ia menambahkan, aplikasi probiotik yang diisolasi dari saluran pencernaan ikan kerapu bebek bersama prebiotik dari ekstrak ubi jalar menghasilkan laju pertumbuhan, retensi protein dan rasio konversi pakan yang lebih baik dibanding kontrol. Aplikasi probiotik Bacillus NP5 yang diisolasi dari saluran pencernaan ikan nila, prebiotik dari ekstrak ubi jalar, dan sinbiotik terbukti mampu meningkatkan populasi mikroba usus, aktivitas enzim pencernaan, kecernaan pakan, dan kinerja pertumbuhan ikan nila dengan hasil terbaik pada perlakuan sinbiotik. 
“Probiotik yang diisolasi dari saluran pencernaan udang vaname telah terbukti mampu meningkatkan aktivitas enzim pencernaan, kecernaan nutrien dan kinerja pertumbuhan udang vaname,” katanya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kinerja reproduksi, Prof. Widanarni melakukan aplikasi probiotik Bacillus sp. NP5 mampu meningkatkan nilai indeks kematangan gonad, fekunditas, dan derajat penetasan telur ikan mas koki oranda. Untuk perbaikan lingkungan budidaya, Prof. Widanarni mengenalkan teknologi bioflok, yakni buangan nitrogen didaur ulang menjadi protein mikroba yang kemudian dapat dimakan oleh ikan. Aplikasi teknologi bioflok pada budidaya lele mampu mengurangi limbah budidaya yang ditunjukkan dengan nilai amonia yang lebih rendah, serta menghasilkan kinerja budidaya yang lebih baik, dengan ukuran lele yang lebih seragam dan tingkat kanibalisme yang lebih rendah.

“Dengan ragam temuan ini, kami menyimpulkan bahwa peran mikroba sangat penting bagi produksi dan keberlanjutan akuakultur, sehingga harus menjadi bagian dalam pengelolaan akuakultur secara terpadu dan holistik. Perlu pemetaan mikroflora usus dan mikroba akuatik untuk melihat struktur komunitas, keragaman dan berbagai faktor yang terkait dengan modulasinya. Ini akan memfasilitasi perkembangan penemuan probiotik baru dan memberikan arahan terhadap desain prebiotik yang sesuai dengan target mikrobiota menguntungkan di saluran pencernaan,” ungkapnya. Jika anda berminat mendapatkan ringkasan orasi ilmiahnya dapat mengunduh di sini, dan jika ingin mendapatkan bahan presentasinya dapat mengunduh disini