{"id":12161,"date":"2022-10-17T10:07:49","date_gmt":"2022-10-17T03:07:49","guid":{"rendered":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/?p=12161"},"modified":"2022-10-17T10:22:48","modified_gmt":"2022-10-17T03:22:48","slug":"ketum-sci-banyuwangi-pemilihan-karakter-genetik-benur-berdasarkan-korelasi-sistem-budidaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/?p=12161","title":{"rendered":"Ketum SCI Banyuwangi: Pemilihan Karakter Genetik Benur Berdasarkan Korelasi Sistem Budidaya"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\"><b>Ketum SCI Banyuwangi: Pemilihan Karakter Genetik Benur Berdasarkan Korelasi Sistem Budidaya<\/b><\/h1>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/aquaindonesia.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Ilustrasi-Udang-Windu-ok.jpg?resize=640%2C360&#038;ssl=1\" \/><\/p>\n<p style=\"margin-left: 113px;\">Produktivitas budidaya udang ditentukan oleh banyak faktor. (Foto:liputan6.com)<\/p>\n<p><\/br><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">AQUAINDONESIA, Jakarta \u2013 Penelitian demi penelitian tidak berhenti dilakukan untuk terus menghasilkan produk terbaik yang mendukung produktivitas udang. Selain mengembangkan variasi metode pada sistem budidaya, induk dan benih unggul berkualitas juga menjadi penentu yang penting. Berdasarkan hal itu, Kona Bay Indonesia bersama Minapoli menyelenggarakan BincangMina untuk mengajak diskusi mengenai topik \u201cKenali Karakter Genetik Udang yang Sesuai dengan Kondisi Tambak\u201d melalui zoom, Jumat (14\/10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prof. Dr. Alimuddin, S.Pi, M.Sc mengatakan bahwa produktivitas budidaya bukan hanya ditentukan oleh kualitas induk benih, tetapi termasuk kualitas dan bagaimana  pengolahan pakannya, mengendalikan penyakit, atau sistem kultur yang dipakai, maupun bagaimana mengendalikan kualitas air. \u201cTerkadang kita hanya fokus kepada lingkungan, diluar kualitas induk benih. Padahal kalau hanya memaksimalkan faktor lingkungan tentunya produksi tidak akan maksimal,\u201d jelas Guru Besar FPIK IPB University ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih menurutnya, berbagai metode bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas genetic yakni ada yang konvensional dan modern. Karakter udang hasil perbaikan genetik yang telah ada di Indonesia yaitu fast growth line yang dulu awal-awal dominan dan utamanya memperbaiki pertumbuhan udang, kemudian mulai ada permintaan varietas lain yang tahan penyakit (disease resistance line), tetapi akhir-akhir ini banyak yang meminta balance\/ hardiness line yang induk dan benih unggulnya tahan penyakit maupun stres. Dari metode seleksi modern, ada yang menggunakan seleksi berbasis marka DNA, transgenesis, dan yang baru-baru ini genome editing. Prof. Dr. Alimuddin menjelaskan secara singkat mengenai perkembangan pemuliaan genetik di Indonesia yang pada saat ini yang paling banyak digunakan adalah karakter genetik balance line.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Ir. Yanuar Toto Raharjo, Ketua Umum SCI wilayah Banyuwangi menambahkan tentang bagaimana penggunaan karakter genetik udang tertentu di lapangan, bagaimana keadaan lapangan ketika memelihara, dan peran genetik dalam budidaya udang di Indonesia. \u201cPenyakit masih menjadi tantangan teratas budidaya secara umum di Indonesia. Dari upaya-upaya yang dilakukan terhadap serangan-serangan penyakit itu, benur F1 mulai digunakan di lapangan pada tahun 2007 setelah masuknya penyakit Myo (IMNV), Oktober 2006. Kita berupaya pada perbaikan sistem, mulai dari benur yang menggunakan F1 dan ada yang beristilah SPF, kemudian densitas tebar diturunkan, dan mengenal bahan kimia untuk desinfeksi tandon,\u201d ujar Ketum SCI Banyuwangi ini menjelaskan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia lantas melanjutkan mengenai sejarah budidaya udang di Indonesia. Karena penyakit ini penyebabnya identik dengan fluktuasi kualitas air yang signifikan di pagi, siang dan sore hari, sehingga dibutuhkan buffer pada kualitas air selain plankton. Akhirny terbentuklah teknologi bioflok saat itu. Ketika AHPND masuk, dibutuhkan program untuk akselerasi pakan dan pertumbuhan. Untuk mengatasi permasalahan penyakit AHPND, peranan benur disini sebagai akselerasi. Jika benur tidak bisa mengakselerasi pertumbuhan, sulit bagi kita untuk berkelit dari penyakit ini. \u201cKorelasi antarsistem budidaya dengan karakter genetik dari data yang saya kumpulkan, kalau menggunakan sistem less water exchange\u2014biasanya dengan sistem probiotik\u2014ternyata lebih bagus menggunakan benur yang strength line atau tahan penyakit. Selanjutnya, pilhan lain baru kita pakai benur yang balance, dan prioritas pilihan benur terakhir dengan karakter genetik speed line atau pertumbuhan cepat,\u201d terusnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan yang menggunakan sistem flow through atau running water system, dimana biasanya dominan parameter planktonnya yang diamati\u2014karena sering ganti air dan perairan dianggap bahan organik lebih sedikit\u2014sehingga benur digunakan yang speed line. Pertumbuhan cepat harus diterapkan disini, namun benur balance bisa jadi pilihan selanjutnya dan strength yang terakhir. Masih dengan narasumber yang sama, untuk budidaya kombinasi, contohnya semiflok membutuhkan benur-benur yang memiliki keseimbangan antara speed line dan strength line\u2014benur balance. Korelasi karakter genetik juga dibandingkan dengan penggunaan jenis konstruksi, jumlah kepadatan dan pemanfaatan automatic feeder yang berbeda. Jika dikumpulkan dari skala prioritas, ternyata benur balance lebih menjadi prioritas terbanyak dari hasil survey yang Toto lakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Robbert Blonk selaku Director of R&#038;D Hendrix Genetics memaparkan mengenai pengembangan karakter genetik yang telah dilakukan oleh Kona Bay Indonesia. Program genetik yang telah dilakukan untuk mendapatkan karakter genetik udang pilihan berdasarkan lingkungan yang ada di Indonesia. \u201cKami telah mengembangkan beberapa strain yang berbeda di berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu negara di Asia. Program genetik kita dimulai dengan mengumpulkan data yang relevan seperti hubungan tingkat pertumbuhan dan iklim. Data ini kemudian dievaluasi bersama-sama dengan performa udang dan juga berdasarkan DNA. Udang generasi selanjutnya diseleksi dari performa udang terbaik secara genetik,\u201d pungkas Robbert. Anggi<\/p>\n<p>Sumber :<br \/>\n<a title=\"https:\/\/aquaindonesia.id\/ketum-sci-banyuwangi-pemilihan-karakter-genetik-benur-berdasarkan-korelasi-sistem-budidaya\/\" href=\"https:\/\/aquaindonesia.id\/ketum-sci-banyuwangi-pemilihan-karakter-genetik-benur-berdasarkan-korelasi-sistem-budidaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/aquaindonesia.id\/ketum-sci-banyuwangi-pemilihan-karakter-genetik-benur-berdasarkan-korelasi-sistem-budidaya\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketum SCI Banyuwangi: Pemilihan Karakter Genetik Benur Berdasarkan Korelasi Sistem Budidaya Produktivitas budidaya udang ditentukan oleh banyak faktor. (Foto:liputan6.com) AQUAINDONESIA, Jakarta \u2013 Penelitian demi penelitian tidak berhenti dilakukan untuk terus menghasilkan produk terbaik yang mendukung produktivitas udang. Selain mengembangkan variasi metode pada sistem budidaya, induk dan benih unggul berkualitas juga menjadi penentu yang penting. Berdasarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12167,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"image","meta":{"footnotes":""},"categories":[226,503],"tags":[],"class_list":["post-12161","post","type-post","status-publish","format-image","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-sdgs","post_format-post-format-image"],"views":4,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12161","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12161"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12161\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bdp.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}